Thursday
Sep 09th
Tampilan
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Berita Tijarah Payet Tasik Dari Pelosok Menembus Ekspor

Payet Tasik Dari Pelosok Menembus Ekspor

E-mail Cetak PDF

Tak ada yang menyangka. Produk berpayet yang digemari pasar ekspor, ternyata diproduksi di sebuah kampung terpencil di selatan Tasikmalaya.

Seusai Shalat Zuhur, Sabtu (2/9), SABILI meluncur meninggalkan Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Target yang dituju adalah Kampung Kalapa Sari, Desa Neglasari, Kecamatan Jatiwaras. Kampung yang berjarak sekitar 20 km selatan kota Tasik ini, lokasinya cukup terpencil.

Setelah menyusuri jalan mulus berhotmik hingga meninggalkan Kecamatan Sukaraja, SABILI berbelok ke kiri memasuki jalan kecil beraspal kasar. Setelah beberapa kilometer, mobil kembali belok kiri menyusuri jalan desa yang berbatu, mendaki dan menuruni perbukitan sepanjang dua km lebih. Setelah dua jam perjalanan, mobil harus berhenti di ujung jalan. Tapi, perjalanan belum usai. SABILI harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang juga berbatu, naik dan turun bukit sekitar 1 km. Di ujung jalan setapak inilah beberapa rumah penduduk menjadi pusat kerajinan payet di kampung ini, tepatnya di Rt 02 Rw 03.

Selain itu, aktivitas memeyat juga dilakukan warga di rumah-rumah, di ladang atau sawah. Bahkan, dua Pos Kamling yang ada di kampung ini, juga disulap menjadi tempat memayet oleh beberapa ibu rumah tangga. Singkatnya, saat ada waktu luang, warga tak menyia-nyiakannya, mereka memanfaatkannya untuk memayet.

Kampung yang berpenduduk sekitar 150 KK atau 600 jiwa ini, memiliki sekitar 80 orang pengrajin payet. Uniknya, sebagian besar terdiri dari kaum hawa, terutama remaja putri putus sekolah dan ibu rumah tangga. Sebagian sudah punya keahlian turun temurun, sebagiannya belajar otodidak dari sesama pengrajin.

Menurut koordinator pengrajin Arif Resmana (48 th), aktivitas membuat payet untuk komersial yang terorganisasi, sudah berlangsung lebih dari empat tahun. Sebelumnya, kaum hawa di kampung ini memayet hanya untuk mengisi waktu luang, usai dari sawah atau saat ladang dan sawah tak berproduksi.

Ketika SABILI berada di lokasi, para pengrajin sedang mengejar target, memayet busana muslimah, berupa gamis dan stelan atas bawah. Produksi kali ini merupakan pesanan dari Produsen Busana Muslim Trendi PT HANASA. Pesanan sebanyak ribuan kodi ini, dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menyambut Ramadhan dan Idul Fitri 1427 H.

Bahkan, karya pengrajin payet dari kampung ini sudah menembus pasar ekspor. Tak terkecuali produk yang sedang dikejar penyelesaiannya ini, dengan bandrol HANASA, sebagain karya pengrajin ini untuk memnuhi pasar ekspor ke Pasar Gelang Singapura, Pasar Seng Arab Saudi, Malaysia dan Hongkong.

Sebelum bekerjasama dengan HANASA, para pengrajin sudah berpengalaman memayet kerudung dan jilbab untuk memenuhi pasar lokal, terutama Bandung, Cirebon, Sukabumi dan kota-kota lain di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tak heran jika para pengrajin Kalapa Sari ini, umumnya memiliki keahlian dan kecepatan yang sulit dicari bandingannya.

Hal ini terukur dari kualitas dan kecepatan saat mengerjakan busana muslimah. Meski lebih rumit, memerlukan bahan yang lebih banyak dan bidang payet juga lebih lebar, satu pengrajin rata-rata mampu menyelesaikan dua  busana per hari. Sehingga, dalam sebulan rata-rata bisa menyelesaikan 50–60 busana.

Dengan ongkos kerja antara Rp 3.500–Rp 4.500 per potong, satu orang pengrajin rata-rata memperoleh penghasilan sekitar Rp 250 ribu per bulan. Semua bahan, peralatan dan transportasi pengiriman produk ditanggung oleh pemesan. Sehingga, pengrajin tak menanggung kerugian jika produknya tak laku di pasar.

“Meski kecil, penghasilan dari memayet ini bisa untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Saya memayet setelah semua pekerjaan di sawah dan ladang selesai. Jadi tidak mengganggu pekerjaan yang lain. Dari pada nganggur, lebih baik ikut mayet,” tutur Janah (20 th).

HANASA yang menjadi bapak angkat para pengrajin ini, juga berjanji akan terus memasok pesanan ke para pengrajin. Pasca Idul Fitri, yang menjadi titik terendah penjualan produk pakaian jadi, tetap tak menyurutkan produsen busana Muslim yang membuka outlet di Jakarta City Centre (JACC) Blok F21 ini, untuk terus memberikan order pembuatan payet bagi produk-produknya.

Sayangnya, pengrajin di dusun terpencil ini, belum sekali pun memperoleh pembinaan dari Pemda Tasikmalaya. Padahal, payet dari dusun ini telah dikenal konsumen di manca negara. Akibatnya, mereka pun berjalan sendiri, merintis, menggeliat dan membesar, tanpa camur tangan pemda.        

Oleh Dwi Hardianto

Komen
Tambah Komen Cari
Tulis Komen..
Nama:
Email:
 
Keterangan:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:

 

Pilihan Bahasa

Arabic English Filipino French Malay Portuguese Russian Spanish

Radio Sabili 1530 AM

Perspektif Herry Nurdi

 

Usaha Meraih Derajat Sempurna dalam Ramadhan

Berada di bulan mulia, memanfaatkan secara maksimal dan meraih keutamaannya adalah kerinduan orang-o...

Resensi Buku

Perjuangan Muslim Patani
article thumbnailMembicarakan penindasan yang dialami oleh kaum Muslimin, kita selalu mengingat negeri-negeri yang...

Login

  • Masuk
  • Mendaftar
    Registration
    *
    *
    *
    *
    *
    REGISTER_REQUIRED
  • Pengunjung Online

    Kami memiliki 66 Tamu online

    Wawancara Terkini

     

    SBY Ditunggu Di Gaza

    SBY Ditunggu Di Gaza Bagi Indonesia, masalah Palestina adalah utang sejarah yang be...

     

    Jadikan al-Qur’an Standarnya

    “Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya,” (Riwaya...

    Lintas Dunia

     

    Tantangan Puasa di Alaska

    Muslim di Alaska melakukan sholat tarawih pada saat matahari masih bersinar terang, karena...

     

    Fast-a-thon, Program Belajar Puasa untuk Non-Muslim Amerika

    Fast-a-thon pertama kali diselenggarakan Asosiasi Pelajar Muslim University of Tennessee t...