
KAKINYA TERSERET LEMAH. Perlahan dan tertatih, wanita itu beranjak dari bangsal lusuh, berusaha menjangkau pekarangan dengan sekuat tenaga. Sepertinya, ia ingin menghirup udara segar di luar rumah. Menikmati udara yang bergerak. Matanya yang terpejam seakan benar-benar menikmati terpaan angin yang sejuk, sambil kedua tangannya yang keriput, mengusap-usap perutnya yang besar.
Oleh Lufti Avianto
Mak Kunel, nama wanita yang berdiri di depan sepetak rumah itu. Ia tak sedang hamil. Bahkan terlalu tua untuk itu. Usianya sudah separuh abad lebih, 55 tahun. Sudah menopause. Punya 12 anak --meski yang hidup hanya dua, serta dua orang cucu. Lagipula suaminya, Sapiran, juga sudah meninggal dunia dua tahun lalu akibat penyakit lever.
Perut Mak Kunel yang kian membuncit itu lantaran ada benjolan besar yang bersarang di perutnya. Ia tak menyadari benjolan itu berbahaya. Maka dia biarkan saja sejak dua tahun lalu. Tak dinyana, benjolan itu makin lama makin besar, hingga seperti usia kehamilan sembilan bulan. “Tadinya kecil, segede gini nih,” katanya sambil mengepalkan tangan.
Mak kian menderita, saat ia mulai sering merasakan nyeri di sekitar perutnya. Rasa nyeri itu datang tak kenal waktu. Kadang pagi, siang, sore, bahkan tengah malam. Lantaran sering terasa nyeri itu pula, anak lelakinya, Abdullah meminta Mak untuk tinggal bersamanya di Desa Kebasiran, Parungpanjang, Bogor, Jawa Barat. Sebab, kalau sedang kumat, “Mak sering nangis menahan sakit. Saya kasihan,” kata lelaki yang akrab disapa Alek ini sambil menatap nanar sang ibu. “Jadi biar tinggal sama saya aja daripada sendirian (di rumahnya).”
Baru dua pekan lalu, ketika perutnya terasa melilit tak tertahankan, ia memeriksakan diri ke Bidan Tuti, yang hanya berjarak beberapa rumah. Ditemani Alek, ia berjalan tertatih menahan perih. Ia tak tahu apa itu tumor abdomen saat Bidan Tuti memvonis penyakitnya. Mak Kunel terkejut, sekaligus bingung. Alek juga. “Saya kayak dipukulin orang. Jadi orang bingung,” kata Alek saat pertama kali mendengar penyakit dan perkiraan biaya yang besar untuk pengobatan sang ibu.
Yang mereka tahu, sepertinya penyakit itu terdengar berbahaya. Mak baru teringat, beberapa tahun setelah melahirkan Alek, ia pernah keguguran pada usia kehamilan dua bulan. Saat itu, ia hanya berobat ke dukun untuk diberi jamu pengurang rasa sakit. Sementara janin, masih ada yang tertinggal di dalam rahimnya.
Karena itu, ia hanya bisa pasrah menerima takdirnya. Setelah periksa, ia hanya diberi obat pengurang rasa nyeri agar tak sering kumat. Usaha Mak Kunel memang terbatas. Bukan apa-apa, kebutuhan makan dan obatnya kini bergantung seratus persen pada Alek. Ironisnya, ayah dua anak itu tak kuasa mengupayakan dengan maksimal pengobatan Mak yang berbiaya selangit. Bukan Alek tak mau berbakti pada wanita yang telah melahirkannya itu, perekonomian rumah tangga Alek pun terbilang seret.
Alek, anak lelaki kelima Mak Kunel mencari nafkah dengan berdagang sosis goreng keliling. Pendapatannya Rp 35 ribu sehari. Jumlah itu harus berbagi untuk beli beras dan bahan baku sosis juga untuk berobat Mak Kunel. Sementara istrinya, Siti Surgawati, tak bekerja, di rumah saja mengurus rumah dan dua anaknya. “Alhamdulillah, cukup buat makan sehari-hari,” kata ayah dua anak ini lirih. Cukup buat makan, tapi belum obat Mak.
Beban terasa kian berat, saat Mak Kunel kerap bolak-balik ke Puskesmas dua pekan terakhir. Uang yang biasanya digunakan untuk memutar modal dan belanja bahan baku, justru digunakan untuk berobat. Jadilah gerobak sosis goreng Alek, hanya teronggok di salah satu sudut di dalam rumah, tak beroperasi. Maka, beberapa perabot pun jadi sasaran untuk mencukupi kebutuhan. Panci besar pun dilego. Rp 30 ribu saja. Juga blender dan pemanggang, dibeli tetangga seharga masing-masing Rp 40 ribu.
Apa pun, Alek upayakan untuk pengobatan Mak. Ia ikhlas, “ini untuk bakti saya sama mak,” katanya menahan tangis. Ia lantas memberanikan diri meminta tolong Uun, tetangganya yang pernah menolongnya setahun lalu. “Bu, saya butuh bantuan. Ibu saya sakit dan butuh operasi,” Alek mengeluh dari sambungan telepon. Lalu, Uun menyarankan Alek untuk membuat surat Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) agar bisa dirujuk ke rumah sakit untuk mengangkat tumornya.
Upaya Alek penuh liku. Sudah dua pekan tak berdagang, ia bingung mengusahakan Jamkesda. Beberapa tetangga yang simpati, lantas membantu ala kadarnya. Beberapa ratus ribu terkumpul, cukup untuk mengusahakan surat itu. “Bikin Jamkesda ini Rp 300 ribu. Mahal,” kata Alek kepada Uun seraya memberikan beberapa lembar fotokopian, Rabu pekan lalu.
Dibantu Uun, Alek mengupayakan pengobatan Mak Kunel ke RSUD Cibinong. Memang, Jamkesda jadi surat berharga bagi warga miskin seperti Mak dan Alek agar bebas dari biaya pengobatan. “Tapi kan, biaya obat, transportasi dan lainnya, nggak gratis,” kata Uun yang juga sibuk cari bantuan untuk Mak.
Berbekal uang bantuan Rp 400 ribu yang didapat, Uun dan Alek akhirnya merujuk Mak Kunel ke Rumah Sakit Daerah Cibinong pada Selasa lalu (27/7). Begitu sampai, Mak mesti antre di Poli Bedah, menunggu giliran. Akhirnya, ia baru di-USG sehari kemudian. Sayangnya, janji untuk operasi bedah yang dijadwalkan Jumat, belum bisa ditepati.
Alek memutuskan untuk mengontrak sepetak kamar, dekat rumah sakit. Biayanya Rp 100 ribu per pekan. Jumlah itu terasa berat, mengingat selembar seratus ribuan itu lembar duit terakhirnya. Soal kebutuhan makan selama menunggu operasi, Alek mengaku bekerja serabutan. “Apa aja asal halal. Saya nggak nyuri,” katanya pelan. Soal jumlah yang didapat, bisa ditebak. Dari hasil kerja kasar jadi kuli serabutan atau bedah empang, hanya cukup untuk makan hari itu.
Hingga berita ini selesai ditulis, Mak Kunel masih menunggu kepastian. Ditemani Alek, ia berharap Jamkesda yang dimiliki bisa memberikan fasilitas gratis seluruh biaya pengobatannya; operasi bedah, rawat inap sampai biaya obat. Meski jaminan kesehatan itu tak memperhatikan perut Mak yang kadang diisi, kadang tidak. Tak juga memperhatikan biaya transportasinya dari Parungpanjang ke Cibinong, juga tak memperhatikan biaya sewa sepetak kamar yang kini ditempati untuk menunggu tindakan medis berikutnya. Mak Kunel menghitung hari. Tak banyak kata yang meluncur dari bibir Mak, saat ditemui. Selain, “Iya, Mak mau sembuh,” kata Mak saat ditanya apa doa yang diucapkannya tadi malam.
Bagi pembaca budiman yang tergerak ingin membantu Mak Kunel, silakan hubungi Eman Mulyatman di 021-33413279 (telp/sms)



Oase
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami ra...



